INOVASI MESIN PEMANAS DAN PENGERING BIOMASSA JENIS ROTARY DRYER

Authors

  • Bagus Hidayatullah Program Studi Teknik Mesin, Jurusan Teknologi Produksi dan Industri, Institut Teknologi Sumatera, Jl. Terusan Ryacudu, Way Huwi, Kec. Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, 35365, Indonesia
  • Lathifa Putri Afisna Program Studi Teknik Mesin, Jurusan Teknologi Produksi dan Industri, Institut Teknologi Sumatera, Jl. Terusan Ryacudu, Way Huwi, Kec. Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, 35365, Indonesia
  • Rico Aditia Prahmana Program Studi Teknik Mesin, Jurusan Teknologi Produksi dan Industri, Institut Teknologi Sumatera, Jl. Terusan Ryacudu, Way Huwi, Kec. Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, 35365, Indonesia
  • T.M.Indra Riayatsyah Program Studi Teknik Mesin, Jurusan Teknologi Produksi dan Industri, Institut Teknologi Sumatera, Jl. Terusan Ryacudu, Way Huwi, Kec. Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, 35365, Indonesia
  • Angga Bahri Pratama Program Studi Teknik Konversi Energi, Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Medan, Jl. Almamater No.1, Padang Bulan, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara 20155, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.51510/sinergipolmed.v4i2.1066

Keywords:

Rotary dryer, semawar tipe 202, biomass, biaya produksi

Abstract

Limbah kotoran sapi seringkali dianggap sebagai limbah yang tidak berguna dan tidak bernilai sama sekali sehingga sering kali dibuang begitu saja. Oleh sebab itu dibutuhkan sebuah cara untuk memanfaatkan limbah kotoran sapi tersebut dengan membuat alat yang dapat mengeringkan kotoran sapi agar dapat digunakan sebagai pupuk kandang kering. Dalam hal tersebut dibutuhkan perancangan mesin pengering kotoran sapi agar memaksimalkan proses pertanian dalam pengelolaan limbah tersebut. Pada penelitian ini akan membahas tentang analisis efektivitas tipe pemanas untuk mesin pengering kotoran sapi jenis Rotary dryer diantaranya yaitu perbandingan antara kompor semawar tipe 202 dan kompor biomass dan menganalisis estimasi biaya produksi yang diperlukan selama 1 bulan. Memvariasikan temperatur antara 50°C, 60°C, 70°C, 80°C untuk mendapatkan waktu dan kelembapan yang terbaik. Dari hasil pengujian tersebut diperoleh kompor terbaik untuk proses pengeringan adalah kompor biomass dengan waktu, kelembapan, dan biaya yang dibutuhkan lebih rendah dibandingkan kompor semawar tipe 202. Dalam segi waktu untuk mencapai temperatur yang sama yaitu 80°C kompor biomass lebih cepat memerlukan waktu 27,7 menit. Sedangkan, untuk kompor semawar memerlukan waktu 31,38 menit. Dalam segi kelembapan pada temperatur 80°C kompor biomass menghasilkan kelembapan 67%. Sedangkan, kompor kompor semawar tipe 202 menghasilkan kelembapan 70%. Dalam segi estimasi biaya produksi selama 1 bulan kompor biomass memerlukan biaya produksi sebesar Rp. 2.059.728. Sedangkan, untuk kompor semawar tipe 202 memerlukan biaya prduksi sebesar Rp. 2.369.928.

References

Adiyanto, O., Suratmo, B., & Susanti, D.Y. (2017). Perancangan Pengering Kerupuk Rambak dengan Menggunakan Kombinasi Energi Surya dan Energi Biomassa Kayu Bakar, Jurnal Integrasi Sistem Industri 4, 1-10.

Arruda, E. B., Façanha, J. M. F., Pires, L. N., Assis, A. J., & Barrozo, M. A. S., (2009). Conventional and modified Rotary dryer: Comparison of performance in fertilizer drying. Chemical Engineering and Processing: Process Intensification 48, 1414-1418.

Badan Pusat Statistik. Statistik Peternakan Sapi Perah Tahun 2019, http://www.bps.go.id/ pada tanggal 3 maret 2021.

Cabe Mc., & Warren L. (2002). Unit Operating of Chemical Engineering. Edition 4th. Singapore: Mc. Grow Hill International book Co.

Citra Kunia putri & trisna insan Noor. (2013). Pengaruh Penambahan Pupuk Organik Kotoran Sapi Terhadap Kualitas Kompos Dari Sampah Daun Kering Di TPST Undip. Anal. Pendapatan dan tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani 53, 1689-1699.

Darmanto, S. (2013). Rancang Bangun Mesin Pengolah Pupuk Kotoran Sapi Seno Darmanto. Jurnal Unimus 13, 1–7.

Furuta, T., Hayashi, H. & Ohashi. T. (2013). Some Criteria Of Spray dryer Design For Food. Drying Technology; An International Journal 12, 37-41.

Hapsari, U. (2018). Pengaruh Aerasi dan Kadar Air Awal terhadap Kinerja Pengomposan. Jurnal Universitas Gajah Mada 1, 8-14.

Indriani, A., Witanto, Y., Hendra, H., & Dharma Raflesia J. (2019). Pembuatan Alat Pengering Berputar (Rotary) Kopi Dan Lada Hitam Menggunakan Mikrokontroler Arduino Uno Desa Air Raman Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu, Ilmu Pengembanga dan Penerapan IPTEKS 17, 64-76.

Jumari A. & Purwanto, A. (2005). Design of Rotary dryer for Improving the Quality of Product of Semi Organic Phosphate Fertilizer. Ekuilibrium 4, 45-51.

Misha, S. Mat, M. H. Ruslan, M.H., Sopian, K. & E. Salleh. (2013). Review on the application of a tray dryer system for agricultural products. World Appl. Sci. J 22, 424-433.

Muhammad Razi & Fakhriza. (2010). Pemanfaatan Limbah Gergaji Kayu dan Sekam Sebagai Bahan Bakar Alternatif Bagi Industri Rumah Tangga. Jurnal Politeknik Negeri Lohkseumawe 1, 838-841.

Sahrul Effendy, & Aida Syarif. (2019). Prototype Rotary dryer Dengan Bahan Bakar Biomassa Ditinjau Dari Pengaruh Variasi Laju Alir Udara dan Durasi Waktu Pengeringan Terhadap Laju Pengeringan Jagung. Jurnal Polsri 10, 1-6.

Saputro, D. D. Wijaya B. R., & Wijayanti, Y. (2014). Pengelolaan Limbah Peternakan Sapi Untuk Meningkatkan Kapasitas Produksi Pada Kelompok Ternak Patra Sutera. Rekayasa 12, 91-98.

Sucipto.,J. & Hendaryono, E. (2018). Rancang bangun alat disck granulator skala laboratorium pembuatan pupuk granul organik mikro organisme lokal (MOL). Jurnal Politeknik Negeri Jember 1, 1-5.

Downloads

Published

2023-08-15